Children And New Media


Pada bab ini yang berjudul “Children and new media” lebih ditekankan fokus pada titik kepada anak-anak dengan media baru, yang dimaksudkan media baru disini bergaris besar kepada anak-anak yang menggunakan komputer dalam konteks waktu senggang. Bab ini dimulai dengan mempertimbangkan perdebatan populer baru pada masalah ini, menggambar pada materi yang ditujukan untuk pembaca umum. Hal ini diikuti dengan diskusi anak-anak dengan pengalaman media baru, dengan fokus pada primatily permainan komputer dan budaya online, dan pertimbangan penggunaan pendidikan media baru oleh orang tua dan anak-anak di rumah. Bab ini diakhiri dengan diskusi singkat implikasi kebijakan budaya dan pendidikan.

Menurut saya tema ini sangat bagus untuk dibahas dan dikaji karena karena komunikasi secara harfiah sangat melekat pada seluruh lapisan masyarakat yang mencangkup berbagai sektor. Dan juga komunikasi sudah termasuk kedalam bidang teknologi. Dijaman sekarang masyarakat sudah menganggap teknologi sebagai bagian dari hidup mereka dari kalangan muda sampai yang tua. Namun kita berfokus terhadap kalangan yang muda, dilihat memang sangat menghawatirkan, sebagaian remaja di Indonesia menghabiskan waktu santai atau senggangya didepan layar komputer atau smartphonenya, mereka keasyikan dengan teknologi tersebut khususnya untuk bermain game. Memang sudah menjadi rutinitas bagi kaum remaja di Indonesia, jika tidak mendapat hiburan berupa game beberapa kaum remaja akan sering frustasi dan mudah bosan. Kebanyakan remaja mencari hiburan dengan bermain games baik itu online maupun online.

Kajian ini sangat penting melihat dari hal populasi anak-anak dan remaja sangat besar di Indonesia. Dengan kehadiran teknologi yang sangat canggih tersebut, memberikan banyak perubahan pada setiap aspek kehidupan khusunya anak-anak. Karena tentu mereka masih polos, lugu, labil, dan hanya menerima apa yang mereka lihat secara langsung atau mengalaminya, ini tentunya akan sangat berdampak sekali pada generasi penerus kita. Terlebih dengan minimnya kontrol orangtua membua banyak konten yang tidak semestinya diakses oleh mereka. Melalui kajian ini kita dapat menelaah tentang berbagai kemungkinan yang terjadi antara internet sebagai new media dengan generasi muda di Indonesia.

            Dengan perkembang dan masuknya new media tentu mengundang respon para ahli baik itu negatif ataupun posistif. Dari sisi yang positif :
1.      Seymour Papert (1993)
Beliau berargumen bahwa new media dapat menciptakan cara baru bagi anak untuk belajar melebihi pembelajaran dalam media cetak dan televisi, karena anak dikatakan lebih responsif dengan pendekatan baru dan media baru mampu mengeluarkan kreatifitas dan keinginan mereka untuk belajar lebih baik lagi dari media konvensional. Peneliti lain pun berargumen bahwa media baru membantu anak-anak untuk bersosialisasi dengan orang lain, mengekspresikan dirinya dan berpartisipasi di kehidupan publik yang tidak didukung oleh media konvensional.
2.      Jon Katz (1966)
Beliau menganggap internet sebagai sarana untuk anak-anak dengan kesempatan untuk melarikan diri dari kontrol dewasa, dan untuk membuat budaya dan komunitas mereka sendiri. Untuk pertama kalinya; Dia berpendapat, anak-anak dapat menjangkau melewati batas-batas sufflocating Konvensi sosial apa yang menurut mereka baik.
3.      Don tapscott (1977)
Beliau berpendapat bahwa internet menciptakan ‘generasi elektronik’ yang lebih demokratif,lebih imajinatif, lebih tanggung jawab sosial, dan lebih baik informasinya dibandingkan dengan generasi sebelumnya. Digital technlology, ia berpendapat akan akhirnya membawa sebuah ledakan generasi kebangkitan sosial yang lebih akan melemparkan tradisional hierarki pada pengetahuan yang luas.
Dari sisi lain ada yang berpendapat negatif tentang masuknya new media ini :
1.      Tobin (1998)

Menurut beliau media baru yang dituduh membuat anak-anak antisosial, dan menghancurkan interaksi manusia yang normal dan kehidupan keluarga. Fenomena ‘Otaku-Zoku’ atau ‘tetap di rumah suku’ di Jepang dianggap sebagai emblemastic cara di mana orang-orang muda yang datang untuk memilih jarak dan anonimitas dari virtual communication pada realitas tatap muka.

2.                  Media ini juga terlihat memiliki efek moral dan ideologis yang negatif pada anak-anak. Dengan demikian, permainan bermain terlihat menjadi kegiatan yang sangat gendered, yang memperkuat tradisional streotypes dan negatif peran model dan, mendorong laki-laki melakukan kekerasan terhadap perempuan.
3.      Schor (2004)

Menurut beliau Terjadinya peningkatan kecemasan tentang aksesibilitas pornografi di internet dan berbahaya dari anak-anak yang tergoda oleh pedofil online. Dan akhirnya, ada kekhawatiran tentang praktek pemasaran online untuk anak-anak, baik melalui penjualan langsung dan melalui pengumpulan data riset pasar.

Game juga rupanya sebuah komoditas berbasis media yang dapat menciptakan kelompok. Contohnya bisa kita jumpai di game DOTA2, game yang sangat ngetrend dikalangan remaja dan anak-anak ini membuat banyak sekali kemunculan komunitas-komunitas yang menampung penjualan dan pembelian items, komunitas yang berisi trick dan tips bagaimana dasar-dasar untuk bermain DOTA2 dan memahami game tersebut. Contohnya, ketika anak-anak pake baju team-team yang berkompetisi di International di game Dota, anak-anak bakal ngerasa sekomunitas dan merasa menjadi bagian komunitas tersbut. Anak-anak terkonstruk akan budaya dari yang dibentuk oleh games, atau media baru itu sendiri yang terkuat dan tidak terkalahkan.

Kesimpulan kami dari chapter children and new media ini ialah kehidupan anak anak tidak bisa lepas dari perkembangan new media. Apalagi generasi yang tumbuh dengan internet pastinya sudah bermain dengan new media. Hal ini sama saja ketika anak anak dulu belum merasakan teknologi mereka akan bermain di luar karena memang era mereka bukan era internet. Akan tetapi anak anak sekarang mengikuti perkembangan jaman, hal ini sangat alamiah sepertinya karena manusia memang harusnya menyesuaikan dengan perkembangan jaman. Anak anak lebih cepat menguasai teknologi di banding orang tua, karena mereka sedang ingin tahu tahu nya dan pastinya mereka tuangkan pada hal yang mereka sukai. Sebagai keuntungan nya anak anak yang tumbuh pada era new media akan mudah adaptasi dengan sistem kedepannya karena mungkin kedepan segala sesuatunya bergantung dengan internet. Ada kelebihan ada juga kekurangan kekurangan ini mungkin seperti perilaku anak yang berubah sejak adanya internet. Perilaku yang lebih konsumtif dapat terlihat dengan adanya new media ini. Segala perubahan itu sudah wajar terjadi, sudah jalan bahwa dunia memang tidak di statis, manusia yang katanya sebagai mahkluk paling sempurna di banding ciptaan lainnya sudah seharusnya mengendalikan teknologi bukan yang sebaliknya. Memang sesuatunya harus balance sehingga tidak ada yang terlalu berat.







Daftar Pustaka :


0 komentar:

Posting Komentar

Rahmat F. Diberdayakan oleh Blogger.

Copyright © / Coretan kecil mahasiswa gabut

Template by : Urang-kurai / powered by :blogger